Jumat, 23 Oktober 2020

GEREJA SEBAGAI UMAT ALLAH YANG BARU

 


sumber foto : Pixabay.com

Kelas IX Bab 1. Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti

 Gereja Sebagai Umat Allah yang Baru

Bahan Alkitab : Kisah 2:1-47; 1 Petrus 2:9-10; Yeremia 31:31-34


A. Pendahuluan

Kegiatan 1

Menyanyikan lagu KJ 257: 1-3 ”Aku Gereja, Kau pun Gereja”.

Ref.:

Aku Gereja, kau pun Gereja, kita sama-sama Gereja dan pengikut Yesus di seluruh dunia, kita sama-sama Gereja.

1. Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya;
    Bukalah pintunya, lihat di dalamnya, Gereja adalah orangnya.

2. Berbagai macam manusia, terdiri dari bangsa-bangsa,
    lain bahasanya dan warna kulitnya, tempatnya pun berbeda juga.


3. Di waktu hari Pentakosta Roh Kudus turunlah ke dunia;
   G’reja disuruh-Nya membawa berita kepada umat manusia.

Judul asli: “We are the Church”, oleh Donald Stuart Marsh
Lagu: Richard K. Avery
Terjemahan A. Simanjuntak.

Informasi apakah yang kamu dapatkan dari nyanyian di atas? Diskusikan
dengan teman sebangkumu dan buatlah sebuah catatan singkat dari hasil
diskusi kalian!
...........................................................................................................................
...........................................................................................................................

Kegiatan 2
Sebutkan beberapa gereja yang kamu kenal! Di manakah letaknya? Di jalan apa? Gambarkan juga kondisi gedung gerejanya. Apakah bangunannya megah dan mewah? Ataukah sederhana saja? Dengan atap rumbia dan dinding bambu saja? Menurut kamu, manakah dari gereja-gereja itu yang benar-benar layak disebut gereja? Mengapa kamu mengatakan demikian? Bagaimana hubungan pernyataan kamu dengan lagu Kidung Jemaat 257 di atas?

B. Gereja: Gedungnya atau Orangnya?

Empat puluh hari setelah Yesus naik ke surga, murid-murid-Nya berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem. Tiba-tiba angin kencang bertiup di ruangan yang terkunci itu. Lalu lidah api yang berkobar-kobar turun di atas kepala 
para murid. Sebuah kejadian aneh dialami oleh para murid. Mendadak mereka berkata-kata dalam berbagai bahasa asing.
Yerusalem saat itu penuh sesak
dengan orang-orang dari berbagai
negeri. Orang banyak datang ke kota
itu untuk merayakan hari Pentakosta
atau perayaan syukur untuk panen
mereka di Bait Suci di kota itu. Muridmurid keluar dari tempat mereka berkumpul. Tiba-tiba semua orang yang mendengar mereka dan yang berasal dari berbagai tempat di dunia dapat memahami kata-kata mereka. Orang-orang itu berasal dari Partia,
Media, Elam, Mesopotamia, Yudea
dan Kapadokia, Pontus dan Asia,
Frigia dan Pamfilia, Mesir, Libia,
Roma, Kreta, Arab, dan lain-lain.
Mereka orang-orang Yahudi maupun
bangsa-bangsa lain yang memeluk agama Yahudi. Semua terheran-heran. “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masingmasing
mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita?” (Kis. 2:7-8). Sebagian orang lagi bersikap sinis dan mengejek mereka. “Mereka sedang mabuk anggur manis,” kata orang-orang ini tentang murid-murid
Yesus. Petrus, salah seorang dari murid-murid itu, bangkit dan memberikan kesaksiannya. Ia menceritakan bahwa apa yang disaksikan oleh orang-orang itu sudah dinubuatkan oleh Nabi Yoel. 
Akan terjadi bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka
anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan terunaterunamu
akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu
yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku lakilaki
dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan
mereka akan bernubuat (Kis. 2 : 17-18).

Apa yang disaksikan oleh orang banyak itu tidak lain adalah bukti bahwa
Yesus yang disalibkan dan yang telah bangkit dan naik ke surga itu, sungguhsungguh
berkuasa. “Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanya orang banyak
itu.
Petrus menjawab, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing
memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan
dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (ay. 38). Hari itu
juga banyak orang yang meminta agar mereka dibaptiskan. Jumlah mereka
sekitar tiga ribu orang. Itulah gereja perdana.
Apa yang menarik dari bagian kisah ini? Ternyata gereja tidak pertamatama
dibentuk oleh gedungnya. Gereja, seperti yang dikatakan dalam katakata
nyanyian pembukaan kita, terutama sekali adalah orangnya. Buktinya,
ada banyak gedung gereja di negara barat yang kini kosong karena orangorang
Kristen di sana meninggalkan iman mereka atau tidak mau lagi pergi ke
gereja. Dapatkah gedung-gedung gereja itu disebut sebagai “gereja”? Sudah
tentu tidak! Gereja tanpa orangnya bukanlah gereja.

C. Makna Gereja
Apakah arti “gereja” sesungguhnya? Kata “gereja” dalam bahasa Indonesia
berasal dari sebuah kata dalam bahasa Portugis yaitu igreja (baca: igreza).
Kata igreja dalam bahasa Portugis ini dekat sekali dengan kata iglesia dalam
bahasa Spanyol yang mempunyai arti yang sama, yaitu “gereja”. Kata iglesia
ini dapat ditelusuri kembali ke kata aslinya dalam bahasa Yunani yaitu ekklesia.
Kata ekklesia berasal dari dua kata, yaitu ek dan klesia. Kata ek berarti
“keluar”. Sementara itu, kata klesia berasal dari kata kerja kalein yang berarti
“memanggil”. Dengan demikian, kata ekklesia mengandung arti “dipanggil
keluar”. Artinya, anggota-anggota gereja adalah orang-orang yang dipanggil
untuk keluar dari lingkungannya, dari sanak keluarganya, dari kaum kerabatnya,
untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas baru yang bernama gereja.
Orang-orang ini termasuk kita semua dipanggil keluar untuk menjalankan
tugas kita untuk memberitakan kasih Allah yang dinyatakan melalui Yesus
Kristus. Kasih itu harus disampaikan dengan perkataan dan perbuatan kita. 


D. Umat Allah yang Baru

Bagaimana hubungan gereja dengan umat Israel? Apakah keduanya
berbeda ataukah sama? Dalam Yeremia 31:31-33 dikatakan :
31 Sesungguhnya Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum
Yehuda, 32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek  moyang mereka . . . 33 . . . Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Nabi Yeremia menubuatkan bahwa Allah akan mengadakan suatu
perjanjian yang baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, yaitu umat Allah.
Perjanjian ini tidak dibuat dalam loh batu, melainkan yang dituliskan di hati
mereka. Artinya, perjanjian Allah yang lama akan diperbarui dengan sebuah
perjanjian yang baru.
Mengapa Allah ingin mengadakan perjanjian yang baru dengan umat-Nya?
Pada masa Perjanjian Lama kita menemukan banyak sekali kasus pelanggaran
perjanjian oleh umat Israel. Berulang kali bangsa itu menolak dan berpaling
dari Allah. Akibatnya mereka juga berulang kali mengalami penghukuman
(Ul. 9:18; 31:29; Hak. 6:1; 10:6, dan lain-lain.). Apa sebabnya? Tampaknya
umat Israel hanya mengetahui hukum Allah apabila mereka membacanya atau
mendengar hukum itu dibacakan atau disampaikan kepada mereka.
Selain itu, hukum Taurat seringkali malah dijadikan sebagai senjata untuk
menghakimi orang lain. Di masa Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus melayani
orang banyak, banyak ahli Taurat yang mengecamnya karena Tuhan Yesus
dianggap melanggar aturan-aturan Taurat dengan menyembuhkan orang pada
hari Sabat (mis. Mrk. 3:1-6, bdk. Mat. 12:1-8; dan lain-lain.). Taurat yang
seharusnya digunakan untuk menjadi penuntun menuju kehidupan yang lebih
baik, malah lebih sering menghadirkan masalah dalam kehidupan bersama
karena digunakan secara keliru.
Karena itulah, melalui Nabi Yeremia, Tuhan Allah mengatakan bahwa Ia
akan menaruhkan Taurat-Nya di batin mereka dan menuliskan hukum-Nya
di hati mereka. Dengan demikian, umat Allah akan selalu mengingat hukumhukum-
Nya. Dengan menaruh hukum Taurat di dalam hati, umat Allah pun
akan memberlakukan hukum itu dengan hati, bukan sekadar mengikuti aturanaturan
hukum dengan membabi buta (bdk. 2Kor. 3:6).
Itulah sebabnya gereja dibentuk Allah sebagai umat Allah yang baru. Inilah
umat Allah yang hidup dengan hukum yang baru, yaitu hukum kasih. Karena
itu pula, gereja seringkali disebut sebagai ”Israel yang baru”. Dalam 1 Petrus
2:9-10 dikatakan: 9Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa
yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan
perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu
keluar dari kegel  apan kepada terang-Nya yang ajaib: 10 kamu, yang
dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-
Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh
belas kasihan.

Gereja perdana terbentuk sebagai koreksi atas umat Israel yang menjadikan 
Taurat sebagai hukum yang membelenggu diri dan sebagai alat untuk
menghakimi orang lain. Bagaimana orang sekarang menggunakan hukum hukum
agama untuk membelenggu diri sendiri dan menghakimi orang lain?
Pernahkah kamu menghakimi seseorang yang tidak pergi ke gereja pada suatu
hari Minggu? Coba perhatikan percakapan di bawah ini:

Tina    :”Didi, kok kamu nggak ke gereja sih tadi pagi? Itu dosa lho!”
Santo  :”Rudi, kamu nggak boleh mendengarkan musik sejenis itu. Itu dosa, tahu!”
Marni  :”Nana, pakaian kamu tuh nggak sopan ya. Itu dosa!”

Berapa sering kamu mendengar kata-kata seperti itu yang diucapkan oleh
teman kamu? Atau mungkin kamu sendiri pernah berkata demikian kepada
salah seorang teman kamu? Bahaslah masalah ini dengan teman kamu
sebangku. Apakah kamu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tina, Santo,
dan Marni? Kalau ya, mengapa? Kalau tidak, apa sebabnya? Menurut kamu,
manakah sikap yang mirip dengan apa yang diperlihatkan oleh para ahli Taurat
di zaman Tuhan Yesus?
Diskusikanlah pertanyaan-pertanyaan itu dengan teman kamu sebangku,
lalu tuliskan jawabanmu di bawah ini!
...........................................................................................................................

...........................................................................................................................

E. Pergumulan Gereja
1. Gereja yang Terbuka
Bagaimanakah sifat gereja perdana? Salah satu sifatnya sudah kita baca dalam bacaan Kisah Para Rasul pasal 2 tadi. Di situ digambarkan bahwa gereja perdana adalah gereja yang terbuka. Gereja ini terdiri dari orang-orang dari berbagai daerah di seluruh dunia. Ini berarti, walaupun pada mulanya murid-murid Yesus hanya terdiri dari orang-orang Yahudi, bahkan hanya dari satu daerah saja yaitu Galilea, gereja perdana sudah terdiri dari orang-orang yang berasal dari latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda-beda.Selain itu, gereja perdana juga terbuka bagi kepemimpinan perempuan.

Banyak tokoh perempuan yang berkiprah di gereja perdana, seperti Lidia (Kis.16:14, 40), Priskila (Kis. 18:2, 18), Yunia (Rm. 16:7).Gereja juga menerima orang yang cacat, yang tidak sempurna, untuk menjadi anggotanya. Dalam Kisah 8:27-40 dikisahkan bahwa Filipus membaptiskan seorang sida-sida Etiopia. Sida-sida adalah laki-laki yang dikebiri. Dalam aturan keagamaan Yahudi, orang yang dikebiri dilarang masuk ke Bait Suci dan mempersembahkan korban. Bagaimana dengan gereja di masa kini? Banyak gereja di Indonesia yang terbentuk di dalam kelom pok-kelompok suku tertentu. Hal ini disebabkan oleh strategi penginjilan yang dilakukan oleh para misionaris barat di Indonesia. Mereka berpendapat bahwa gereja-gereja akan lebih mudah berkembang apabila mereka menggunakan bahasa yang sama dan mengenal budaya yang sama. Namun, dampak negatifnya, kadang-kadang tercipta eksklusivisme kesukuan di gereja-gereja ter sebut. Dapat saja sebuah kelompok suku tertentu menganggap gerejanya lebih baik dan lebih hebat daripada kelom pok suku yang lain. Kenalkah kamu akan gereja seperti itu? Semoga tidak ada, bukan? Hal ini tentu sangat berbeda dengan gereja perdana yang kita lihat terbentuk
di Yerusalem. Kelompok seperti itu jelas berbeda dengan gereja yang dicitacitakan Tuhan Yesus sebagai sebuah komunitas yang terbuka.

2. Pemahaman tentang Ajaran yang Benar
Selain eksklusivisme kesukuan, mungkin ada gereja-gereja tertentu yang
menganggap dirinya yang paling benar dan paling suci. Di daerah Pegunungan Appalachia di Amerika Serikat, ada sekelompok orang Kristen yang percaya bahwa mereka dapat menguji iman mereka dengan memegang ular-ular yang sangat berbisa. Kalau mereka digigit ular itu dan tidak mati, maka itu membuktikan bahwa mereka memiliki iman yang kuat dan benar. Hal ini didasarkan pada Markus 16:17-18, Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18mereka akan memegang ular,dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.
Bagaimana pendapat kamu tentang ayat di atas? Apakah kamu percaya bahwa Tuhan Yesus akan melindungi kita dari hal-hal di atas? Coba diskusikan pertanyaan-pertanyaan ini dengan teman kamu sebangku dan tuliskan hasilnya.

Kita percaya bahwa Tuhan akan melindungi kita dari mara bahaya, namun kalau kita dengan sengaja memegang ular dan mengharapkan kita akan tetap selamat, bukankah itu sama dengan mencobai Tuhan? Kita dapat melihat hal yang serupa ketika Tuhan Yesus dicobai Iblis di padang gurun dan kepada-Nya dikatakan, ”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (Mat. 4:6). Namun kepada Iblis, Tuhan Yesus menjawab, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:7).

3. Gereja yang Gagal Menjadi Teladan

Mahatma Gandhi, seorang tokoh kemerdekaan India, sering membaca Alkitab, khususnya kitab Injil Matius. Ia sangat tertarik oleh ajaran-ajaran Yesus yang terdapat dalam Khotbah di Bukit. Ia ingin sekali berkenalan dengan Yesus yang digambarkan di dalam Alkitab. Pada masa mudanya, di tahun 1920-an, Gandhi tinggal dan bekerja di Afrika Selatan. Saat itu, pemerintah Afrika Selatan mempraktikkan politik apartheid, yang membedabedakan orang berdasarkan warna kulitnya. Orang kulit berwarna gelap seperti orang-orang Afrika, keturunan India, Melayu, dan lain-lain. – dilarang bergaul dengan orang kulit putih. Mereka dilarang memasuki gedung-gedung atau tempat-tempat yang khusus disediakan untuk orang-orang kulit putih. Mereka pun dilarang menikah dengan orang kulit putih. Orang yang berani melanggar aturan-aturan ini akan dihukum dan dijebloskan ke dalam penjara. Suatu hari Gandhi berkunjung ke gereja orang kulit putih di Capetown. Ternyata ia ditolak karena warna kulitnya. Gandhi kecewa. Ia mengatakan, ”I like your Christ. I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.” Artinya, ”Aku suka akan Kristusmu. Tapi aku tidak suka orang orang Kristenmu. Orang-orang Kristen sangat berbeda dengan Kristusmu.” Apa yang dikatakan oleh Gandhi sungguh sebuah kritik yang tajam bagi kita orang Kristen, karena kita seringkali gagal mencerminkan siapa Yesus Kristus yang sesungguhnya yang kita kenal dan sembah itu. Dalam cara apa lagi gereja dapat menjadi batu sandungan bagi orang.lain? Di negara Pantai Gading, di Afrika, berdiri Basilika Notre Dame de la Paix de Yamoussoukro atau Basilika Maria Ratu Perdamaian Yamoussoukro. Gereja ini adalah gereja Kristen terbesar di seluruh dunia, yang dibangun oleh Presiden Félix Houphouët-Boigny (baca: Feliks Ufwet Bwanyi) di desa tempat kelahirannya dengan harapan bahwa desa itu akan menjadi ibu kota negaranya. Basilika ini dibangun antara 1985-1990 dengan biaya $300 juta (sekitar Rp3.050.000.000.000,00 atau Rp3 triliun lebih). Basilika ini dapat menampung 7.000 tamu yang duduk dan 11.000 tamu yang berdiri.

Keseluruhannya dibangun dengan marmer yang diimpor dari Italia, dan dihiasi dengan lukisan dari kaca seluas 7.000m2 yang diimpor dari Prancis. Bagaimana dengan rakyat Pantai Gading sendiri? Pantai Gading adalah salah satu negara miskin di Afrika. Pada tahun 2008, 42% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka hidup dengan penghasilan sekitar Rp13.000,00 per hari. Karena itu, sungguh sangat memalukan ketika gereja yang sangat mewah dibangun di tengah-tengah kemiskinan masyarakat sekitarnya yang luar biasa! Bagaimana pendapat kamu sendiri? Apakah kamu setuju kalau orang membangun gereja yang mewah seperti itu? Coba bahas masalah ini dengan teman-teman kamu!

4. Hidup Saling Berbagi

Sebuah cara hidup yang sangat menarik yang diperlihatkan oleh gereja perdana adalah bagaimana setiap orang menjual harta milik mereka dan kemudian hidup saling berbagi. Kis. 2:44-45 mengatakan:

Gambar 1.2 Basilika Notre Dame de la Paix de Yamoussoukro di Pantai Gading Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 9 44Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,45dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Orang-orang Kristen perdana tidak menganggap milik mereka hanya untuk mereka sendiri. Mereka saling membagikan apa yang mereka miliki, sehingga tidak ada seorang pun yang kekurangan. Cara hidup ini sungguh menarik, sebab sangat berbeda dengan hidup sebagian orang yang materialistis, yangsangat mementingkan harta dan kekayaan. Orang yang materialistis selalu menilai orang lain dari apa yang orang itu miliki, mobil apa yang mereka kendarai, merek pakaian yang mereka kenakan, di daerah mana mereka, berapa luas rumahnya, di mana mereka berlibur, dan lain-lain. Melihat cara hidup orang-orang ini, sungguh menarik bila kita mencatat apa yang dikatakan oleh Warren Buffet – salah seorang paling kaya di dunia – dalam nasihatnya tentang bagaimana menjadi kaya. Kalau orang tertentu selalu melihat merek pakaian yang mereka beli, maka Buffet yang kaya raya justru tidak peduli dengan merek suatu barang. Buffet mengatakan, jangan membeli pakaian dengan melihat mereknya. Belilah pakaian yang nyaman dipakai, walaupun itu pakaian yang murah. Bagi Buffet itu adalah resep menuju kaya. Bagi orang Kristen perdana, gaya hidup itu didasarkan pada kecukupan dari apa yang mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan. Kebutuhan dan keinginan tidak sama. Kita dapat mengingini banyak hal, namun mungkin sekali banyak di antaranya sebetulnya tidak kita butuhkan. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang berbunyi, Live simply, so others can simply live! Artinya, ”Hiduplah sederhana, agar orang lain dapat sekadar hidup!” Bila kita hidup berlebih-lebihan, makan minum secara berlebihan melampaui batas kebutuhan kita, maka akan ada banyak orang yang hidup kekurangan. Tuhan mengajarkan kita hidup dengan secukupnya, seperti yang dijalani oleh orang-orang Kristen dari gereja perdana dengan cara berbagi dengan sesamanya. Nah, bagaimana dengan kamu sendiri? Kapan terakhir kamu berbagi dengan temanmu? Dengan seseorang yang tidak kamu kenal? Apa yang kamu berikan kepada orang itu? Sebagian dari makan siang kamu? Sebagian dari uang jajan
kamu? Pakaian kamu? Coba ceritakan pengalaman kamu, dan bagaimana sikap orangtua kamu ketika mengetahui ketika kamu memberikan sesuatu kepada orang lain! Apakah mereka terkejut? Bangga? Memuji kamu? Atau memarahi kamu? 

.....................................................................................................................................................

.....................................................................................................................................................

F. Penilaian

1. Kata ”gereja” berasal dari kata bahasa Yunani, yaitu ”ekklesia”, yang berarti ”dipanggil keluar”. Bagaimana gereja kamu memahami keberadaan dirinya sebagai komunitas yang ”dipanggil keluar”? Dipanggil untuk keluar ke mana?

........................................................................................................................................................

.......................................................................................................................................................

2. Coba bandingkan gereja kamu dengan gereja yang digambarkan dalam Kisah 2:1-47! Adakah persamaan dan perbedaan di antara keduanya?

.....................................................................................................................................................

....................................................................................................................................................

3. ”Gereja perdana terbentuk sebagai koreksi atas umat Israel yang menjadikan Taurat sebagai hukum yang membelenggu diri dan sebagai alat untuk menghakimi orang lain.” Seberapa jauh hal itu dapat terlihat di dalam kehidupan gerejamu sekarang?

.....................................................................................................................................................

........................................................................................................................................................

4. Seberapa besar peranan kaum perempuan di gerejamu sekarang? Apakah mereka juga terlibat dalam kepemimpinan gereja, sebagai penatua? Pendeta? ataupun sebagai Bishop?

............................................................................................................................................................

...........................................................................................................................................................

5. Kalau kaum perempuan di gerejamu kurang berperan, apakah sebabnya? Bagaimana memperbaiki keadaan ini?

..........................................................................................................................................................

.........................................................................................................................................................

G. Rangkuman

Gereja yang terbentuk di Yerusalem pada hari Pentakosta adalah buah pekerjaan Roh Kudus, bukan manusia. Gereja perdana terdiri dari orang orang yang beraneka ragam suku bangsa, ras, dan bahasa. Dengan demikian, gereja adalah komunitas yang terbuka dan inklusif, yang terpenting dari gereja bukanlah gedungnya melainkan orangnya. Itu berarti sederhana atau mewah gedungnya tidaklah penting.

Orang-orang di gereja perdana hidup dengan berbagi kepada sesamanya. Gaya hidup ini masih dilakukan oleh banyak orang Kristen dan gereja yang berbagi lewat persembahannya, lewat bantuannya kepada orang miskin, para korban bencana alam, bea siswa pendidikan, bantuan kepada orang jompo, keberpihakan kepada korban-korban ketidakadilan, dan lain-lain.

H. Nyanyian Penutup:

Menyanyikan lagu NKB. 111 “Gereja Bagai Bahtera”, sambil menghayati makna kata-katanya tentang kehidupan dan pergumulan gereja-gereja kita. 

1. Gereja bagai bahtera di laut yang seram mengarahkan haluannya ke pantai seberang. Mengamuklah samudera dan badai menderu; gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh. Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih: Betapa jauh, di manakah labuhan abadi?  
Reff: Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!

2. Gereja bagai bahtera pun suka berhenti, tak menempuh samudera, tak ingin berjerih
dan hanya masa jayanya selalu dikenang, tak ingat akan dunia yang hampir tenggelam!
Gereja yang tak bertekun di dalam tugasnya,tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah.

3. Gereja bagai bahtera diatur awaknya, setiap orang bekerja menurut tugasnya. Semua satu padulah, setia bertekun, demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh. Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk di dalam kasih dan iman dan harap yang teguh.

sumber : Buku Pendidikan Agama Kristen kelas IX Kementrian pendidikan dan kebudayaan.

0 komentar:

Posting Komentar

Hubungi saya

 Nama         : Anneke A Polak S.Pd  No HP     : 08161978236  Email      : polak.anneke04@gmail.com